Nuklir Biru Bangsa Oriman (1 dari 2)

Nuklir biruBangsa Oriman di Tharsis mengenal dua jenis sumber energi tingkat tinggi, yakni REYA dan ILA, atau reaksi nuklir merah dan reaksi nuklir biru. Nuklir merah adalah reaksi nuklir yang telah dikenal oleh manusia dengan memanfaatkan energi dari proses pecahnya atom isotop tinggi seperti Uranium dan plutonium. Sayangnya, nuklir REYA ini menghasilkan limbah radioaktif yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup itu sendiri sehingga pemerintah Tharsis melarang nuklir merah dan menyebutnya sebagai “energi berbahaya ciptaan bangsa primitif”.

Pada milenium pertama tahun Khamrel, Imperium Tharsis mengembangkan nuklir biru yang lebih dikenal dengan nama ila. Nuklir biru adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sumber energi yang tidak menghasilkan zat yang berbahaya bagi lingkungan. Sebutan nuklir biru tidak menyangkut satu jenis sumber energi, namun sangat banyak. Akan tetapi, inti pokok dari sumber tenaga ila adalah penggunaan permata blue sapphire (safir biru) sebagai pengumpul dan pengion energi. Dalam bahasa Origon tua, permata safir biru disebut dengan illorum, sehingga nuklir biru lebih populer dengan sebutan ila, yang asalnya dari kependekan kata illorum.

Nuklir biru tipe pertama adalah sintesis antimateri. Ini adalah sumber energi yang sangat penting di Origophyta yang mendukung hampir 30 persen dari konsumsi energi planet itu. Antimateri adalah partikel subatomik yang memiliki sifat yang berlawanan dengan materi. Jadi, jika satu atom antimateri bersinggungan dengan satu atom materi (apapun itu, emas, besi, perak, dan sebagainya), maka gaya saling tarik akan terjadi dan kedua atom itu akan saling menghancurkan. Energi yang dihasilkan sangat besar. Manusia mengembangkan teknologi antimateri baru pada awal abad ke-21 dengan didirikannya Large Hardon Collider di Swiss, namun bangsa Oriman telah membuat mesin Hadron berdiameter 22 kilometer itu menjadi mesin yang sangat kecil berkat lensa multifaset safir biru yang dapat memodifikasi kecepatan atom sehingga dapat dipasang dengan leluasa pada pesawat luar angkasa mereka.

Prinsip kerja nuklir biru sintesis antimateri bangsa Oriman adalah reaksi antimateri yang dikendalikan dengan pengukur intensitas entropi partikel. Jika energi tubrukan antimateri dan materi tidak dikendalikan, tubrukan dalam skala besar akan merambat dan menyebabkan terciptanya luang hitam (black hole).

Teknologi maju bangsa Oriman telah memungkinkan mereka menambang energi dari lubang hitam dan bintang yang sekarat.

Nuklir biru tipe kedua disebut ipsema, yang mensintesis energi dari air. Teknologi ini belum dikenal oleh manusia. Ada dua jenis teknologi ipsema, yakni APITHEIM yang memanfaatkan sinar matahari Apholen dan KHAREYA yang memanfaatkan sinar bulan. Di sinilah kemenangan keajaiban teknologi sintesis energi bangsa Oriman dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di galaksi ini. Tak heran, bangsa Oriman menjadi salah satu bangsa paling tangguh di galaksi. Kita akan membahas mengenai nuklir biru tipe ipsema pada artikel selanjutnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s