Apakah Orimãn Bersekolah?

 

Umur seorang Orimān rata-rata adalah sembilan ratus hingga seribu dua puluh tahun. Para penduduk dari golongan samnubar (ksatria) dan wallawi memiliki usia yang paling panjang. Para Orimān terkenal memiliki rentang usia terpanjang apabila dibandingkan dengan spesies makhluk cerdas yang menghuni bagian tengah galaksi. Beberapa makhluk dengan rentang usia mencapai sepuluh ribu tahun hingga lima puluh ribu tahun tercatat dalam sejarah Tridias kuno dan kebradaan mereka tidak pernah diketahui lagi sejak setidaknya dua puluh milenium yang lalu, menurut catatan sejarah Seith Darpa.

Kemarin, sepulang dari peresmian proyek Novus Jura III oleh Yang Mulia Ganistrat Aréstrosparta III, saya bertemu dengan kawan lama saya, Novtémus Tuto, yang kini bertugas di Kementerian Pendidikan di Hyphoress Barshi. Tatkala saya bertemu teman lama saya itu,—yang kepalanya masih besar sejak kami mengenal satu sama lain tujuh belas tahun yang lalu saat saya tiga belas tahun,—dan kulitnya masih biru dengan mata yang besar dan berbinar,—saya teringat untuk menulis mengenai apakah bangsa Oriman menyekolahkan generasi mudanya. Saya kira ini akan menjadi sebuah tulisan yang unik mengingat manusia masa kini, yang usianya hanya seper sepuluh rentang usia para Oriman, dengan bangga menyekolahkan anak-anak mereka hingga tamat sarjana, menjadi ahli ini dan itu, lalu mati.

Singkatnya, oriman-oriman muda tidak bersekolah. Para oriman menikmati masa muda yang panjang,—sekitar lima ratus hingga enam ratus tahun—dan wanita oriman hanya dapat melahirkan sekali-dua kali sepanjang masa hidupnya. Sistem metabolisme badan mereka sangat berbeda dengan manusia dalam beberapa aspek, dan salah satunya adalah wanita oriman tidak mengalami datang bulan. Secara fisik, para Oriman jauh lebih kuat dibandingkan dengan manusia biasa di zaman modern ini.

Pada usia yang sangat muda, sekitar lima atau enam tahun, seorang oriman wajib mempelajari tiga bahasan pokok pendidikan, yakni bagaimana cara membaca, menulis dalam langgam huruf Laurém, berhitung (kalkulus, aljabar dan geometri dasar, tentunya) dan berinteraksi dengan sesama mereka. Anak-anak pada usia tersebut diwajibkan agar mampu menulis, membaca dan berhitung hingga usia sepuluh tahun. Pada usia sepuluh tahun, orang tua mereka wajib memastikan bahwa anak-anak mereka telah bisa membaca dalam huruf Laurém (baik secara horizontal maupun vertikal), menulis (baik secara vertikal maupun horizontal) dan berhitung.Setelah mencapai usia dua belas tahun, anak-anak Oriman diberikan kebebasan selama lima tahun untuk berinteraksi dengan masyarakat dan menemukan bakat serta kemahiran mereka. Dalam masa-masa ini, anak-anak pergi ke perpustakaan, berdiskusi dengan para sémmit senior (sémmit adalah istilah untuk para cendekiawan yang ahli dalam berbagai bidang kehidupan), membuat tulisan di jurnal anak-anak, membuat log video sendiri di saluran internet mereka, hingga berpetualang ke pelosok-pelosok negeri untuk mencari benda-benda bersejarah. Dalam masa-masa ini, anak-anak masih didampingi orang tua mereka dan mereka dapat mengajukan proposal kepada Kementerian Pendidikan apabila anak-anak mereka akan melakukan observasi atau penelitian di berbagai bidang kehidupan.

Biasanya, pada usia sampai lima belas tahun, anak-anak Oriman akan menemukan bakat mereka dan menentukan ke mana mereka akan melangkah. Anak-anak dari ras Wallawi akan mempelajari teknik levitasi dan hipnosis dengan menggunakan kayu ferdom. Beberapa Wallawi meneruskan kemampuan berbicara dengan pepohonan, binatang atau unsur-unsur alam kepada anak-anak mereka. Anak-anak dari golongan samnubar (ksatria) berkeliling pertama kali ke wilayah kerajaan mereka dengan menaiki kuda-kuda biru éhara yang bernapas dengan empat paru-paru, belajar bagaimana memberikan sumbangan, melindungi sapi-sapi, menggunakan senjata dengan kekuatan vibrasi suara, serta mengendalikan naga dengan kayu api. Anak-anak yang tinggal di perkotaan belajar membuat mesin, mengenal cara kerja mesin anti-gravitasi, menciptakan kreasi mereka sendiri yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pada usia dua puluh tahun, anak-anak yang sudah beranjak dewasa berhak mengajukan mū pinñjata, sejenis paten untuk hasil karya mereka. Remaja-remaja tersebut telah menguasai bidang ilmu yang mereka tekuni selama beberapa tahun terakhir dan saat itu mereka telah mampu memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. Beberapa oriman menulis pengalaman mereka dalam bidang kemanusiaan, teknologi, kebudayaan, seni, bahasa, matematika dan sebagainya, dan mempresentasikan apa yang telah mereka buat untuk masyarakat. Seorang Oriman yang telah mengajukan mū pinñjata dan karyanya dapat bermanfaat bagi kelompok, bangsa atau siapa saja menjadi oriman yang terhormat dan dapat diterima sebagai salah satu anggota masyarakat yang dewasa.

Singkatnya, anak-anak Oriman belajar dari lingkungan mereka. Mereka melakukan apa yang mereka sukai dengan syarat bahwa pada suatu masa dalam kehidupan mereka, mereka dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, atau setidaknya mereka dapat menghasilkan sesuatu yang positif dan inspiratif. Beberapa Oriman bahkan mulai belajar mengemudikan pesawat induk antargalaksi pada usia dua puluh empat tahun dan memperoleh lisensi untuk mengemudikan kapal luar angkasa dalam modus warp pada usia dua puluh tujuh tahun.

Lalu, tidak ada profesi guru di Imperium Tharsis? Ada, tentunya. Guru dikenal dengan nama sémmit dalam bahasa Tharsis dan seorang sémmit memiliki tanggung jawab untuk memastikan agar generasi muda mendapatkan segala pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka miliki. Seorang sémmit bisa berasal dari golongan mana pun, dan seorang Oriman muda yang ingin mempelajari bidang tertentu akan belajar bersama para sémmit ini selama bertahun-tahun. Para sémmit bertindak seperti mentor yang akan memberikan seorang Oriman muda lisensi dan pengakuan sosial bahwa ia telah menguasai suatu bidang ilmu dan ia siap untuk menjadi berguna bagi masyarakat dan mempertahankan keseimbangan tenaga Apholén. Lisensi dari seorang sémmit sangat berharga karena para sémmit adalah cendekiawan-cendekiawan masyarakat yang memiliki kontribusi yang luas,—setidaknya bagi kelompok tertentu, atau di kerajaan tertentu. Seorang sémmit memonitor sémmit lainnya dan berbagai pengetahuan dalam ranah kebersamaan dan network yang luas dan mendunia. Bahkan seorang petani gandum pun dapat menjadi seorang sémmit ahli dalam pertanian lalu mengajari anak-anak Oriman untuk bertani dan bagaimana mempertahankan kualitas dan kuantitas biji gandum yang besarnya hingga mencapai sebesar kuku ibu jari manusia biasa.

Bagaimana dengan lapangan pekerjaan? Orientasi para oriman muda adalah bagaimana mereka dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakat mereka, lalu menjadikan hidup mereka lebih dari sekadar mencari keping-keping mir emas lalu mati di usia seribu tahun. Tujuan dari para Oriman adalah bagaimana mereka dapat menyadari bahwa mereka dalah bagian dari siklus semesta yang telah diatur sedemikian rupa oleh tenaga Apholén,—sebuah hukum semesta universal yang mengatur segala sesuatu di alam ini sesuai dengan bagaimana ia seharusnya berada. Setiap Oriman memiliki kesadaran untuk menjaga siklus Apholén sebagaimana adanya dan tidak merusak tatanannya. Mereka meyakini bahwa tenaga Apholén yang perkasa sedang dikendalikan oleh suatu kepribadian kosmik yang tertinggi, sebuah kecerdasan superior yang maha-ada, yang menentukan arah kehidupan mereka, menentukan ke mana musim harus bergerak, dan ke arah mana matahari harus bergerak. Mereka menyebut kecerdasan dan pribadi kosmik ini dengan nama Virat.

Jadi, walaupun tidak ada sekolah formal bagi para oriman, mereka mempelajari segala sesuatu dari dunia sekitar mereka. Mereka menggali informasi, mengolahnya, menyelaraskannya dengan alur alam, dan menghubungkannya dengan kecerdasan tertinggi yang mengatur jalannya semesta. Dengan cara itu mereka mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih lengkap dalam waktu yang singkat.

Saya mulai bekerja di Kementerian Riset sejak sepuluh tahun lalu dan tidak ada satu pun teman saya dari bangsa Oriman memiliki gelar dan sertifikat kertas atas kesarjanaan yang mereka kenyam. Namun sungguh, mereka adalah pembelajar yang tangguh,—dengan kecerdasan kolektif yang luar biasa dan kemampuan analisis yang sangat tajam. Para oriman adalah penyanyi-penyanyi yang sangat merdu, dan menggunakan gelombang suara dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka belajar mengekstrak sinar rembulan untuk dijadikan obat dan mengekstrak angin, matahari serta petir untuk sumber tenaga. Mereka membangun piramida di setiap kota untuk memastikan pasokan listrik ke seluruh pelosok. Tidak ada kabel di planet Origophyta karena semua listrik dialirkan dengan sistem nirkabel dan dapat dimanfaatkan kapan pun dan di mana pun tanpa biaya sekeping mir pun.

Masyarakat Oriman sangat tidak menyukai formalitas dan acara yang terkesan dibuat-buat. Mereka membuat segalanya mengalir begitu saja, dan mereka tampil dengan bahasa apa adanya. Walaupun bangsa Oriman terkenal sebagai bangsa paling glamor dan makmur di seantero galaksi, mereka tetaplah makhluk yang tidak menyukai kehidupan yang terlalu materialistik. Dalam usia yang kesembilan ratus sekian, oriman-oriman tua menyepi dalam kehidupan yang penuh dengan syair-syair dan nyanyian bahasa Origon tua yang sakral, menyepi di gua-gua yang temaram, makan hanya dedaunan dan buah-buahan, dan mengakhiri kehidupan mereka dengan terbakar dalam api pernapasan mereka sendiri hingga menjadi abu di awal musim semi. Oriman-oriman yang menetap dalam tahapan lūr sakhan, atau menyepi dari kehidupan dunia, seringkali memutuskan hubungan mereka dengan keramaian, menutup mata di gua-gua bersalju di Dranda Oléns, lalu melebur dalam musim dan dilupakan orang. Apabila seorang lūr sakhan berpulang, api yang membakar badannya berwarna biru, dan abu mereka terbang di malam hari bagaikan jutaan kunang-kunang yang gempita.

***

Hujan baru saja reda ketika saya selesai menulis ini, dan teman saya Tuto mentraktir saya segelas anemot pytt yang segar. Kami kini berada di Pon Boraschja, sebuah kota resort yang terkenal di Plantosin tengah. Pon Boraschja berada hanya tujuh puluh dua thréss khrod (satu thréss khrod sama dengan sebelas koma tujuh mil) ke arah barat kota Novus Jura, dan kami berencana menghabiskan akhir minggu di danau Loris yang jingga di waktu senja. Tuto mengajak saya untuk menghabiskan beberapa hari bersama timnya di Hyphoress Barshi, namun dengan terpaksa saya harus mengatakan bahwa Jenderal Yośarnum Abbéy mengharapkan kehadiran saya di Kha Pūtā dua hari lagi untuk membahas mengenai proyek ketiga kami di Novus Jura.

Tuto terus membujuk saya agar mau mengatakan sekelumit mengenai proyek yang akan kami lakukan, namun saya hanya berkata, “Kali ini kami akan menyelam, bukan lagi menggali.” Tuto juga menanyakan kepada saya apakah saya berniat menjadi sémmit atau tidak, untuk urusan arkeologi zaman pra-Federasi. Saya menggeleng dan menyatakan bahwa ras mosséi (manusia) berdarah merah tidak seharusnya menjadi sémmit untuk bangsa Oriman. Satu yang bisa saya pastikan adalah, saya tidak akan pernah mencapai usia lebih dari seratus tahun, dan bagaimana mungkin saya bisa mengajari oriman muda yang berusia seratus dua puluh lima tahun atau seratus lima puluh tahun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s