Satuan Ukuran Penting di Origophyta

Sebagaimana halnya manusia yang menggunakan besaran dan satuan (units of measurement) untuk mengukur gejala, berat, tinggi, jarak, kecepatan dan sebagainya, bangsa Oriman di Tharsis juga memiliki satuan ukuran. Beberapa satuan belum dikenal oleh manusia. Berikut beberapa di antaranya yang sering digunakan.

SATUAN JARAK
Satuan “khrod
Satuan khrod adalah satuan jarak yang umum dipakai di Tharsis. Khrod dibagi menjadi dua:

1. Thres khrod atau “satuan khrod tanah”. Satu thres khrod sama dengan 11,3 mil di atas permukaan planet.

2. Lur khrod atau “satuan khrod antariksa”. Satu lur khrod adalah jarak yang ditempuh cahaya di ruang hampa dalam satu detik dikalikan dengan besaran standar lentingan ruang-waktu yang dihasilkan oleh mesin pelipat ruang-waktu. Sebagai bayangan, jarak antara bumi dan matahari adalah 1/329,7 lur khrod. Artinya, pesawat luar angkasa Tharsis bisa melaju hingga 329,7 kali lebih jauh daripada jarak bumi-matahari dalam waktu satu detik dalam perjalanan antariksa tiga dimensi.

SATUAN WAKTU
Rhim “tahun” terdiri atas 14 bulan
Moja “bulan” terdiri atas 30-31 hari
Deon “hari”, terdiri atas 24 qin
Qin “jam”. 1 qin sama dengan 2,40 jam.

Bangsa Oriman menggunakan satuan waktu kantili untuk menentukan awal dimulainya tahun. 1 kantili adalah waktu yang ditempuh matahari Apholen dari garis balik utara ke garis balik selatan, dan sebaliknya. Jadi, satu kantili sama dengan setengah rhim atau setengah tahun. Ada dua kantili, yakni onum kantili dan parsh kantili. Tahun baru Khamrel diperingati setiap hari pertama onum kantili, saat matahari Apholen bergerak menuju belahan utara.

Selain pembagian waktu standar, bangsa Oriman juga mengenal satuan waktu Kharel menurut peredaran bulan. Kharel-okhtum adalah kalender bulan bangsa Oriman yang dimulai pada purnama kembar. Karena Planet Origophyta memiliki 2 bulan, yaitu Iottir dan Phemes, perhitungan tahun menurut peredaran bulan dihitung berdasarkan posisi kedua bulan itu. Masing-masing bulan memiliki orbit berlawanan arah. Setiap sekitar 475 hari sekali, Iottir dan Phemes sama-sama mengalami purnama. Ini disebut masa Kharel-okhtum yang langka. Pada saat kharel-okhtum (yang biasanya berlangsung tiga hari), cairan nirna yang dihasilkan oleh pohon walajja berubah dari yang biasanya keemasan menjadi biru muda. Nirna pada saat kharel-okhtum ini lebih kuat daripada nirna biasanya, namun sayangnya kaum reptilian (musuh tangguh para ksatria Tridias-Parseka) juga dapat meminum nirna ini tanpa mengalami kerusakan sel. Karena itu, nirna ini diincar oleh para reptilian karena hanya nirna jenis itulah yang mampu mereka konsumsi untuk menandingi kekuatan nirna biasanya.

Untuk menjaga nirna biru-cerah yang langka ini, para Wallawi mengerahkan naga-naga Larum Ma’at yang menyemburkan api cair untuk menjaga hutan walajja. Burung api Shiem Pikhai juga dikerahkan. Nirna biru-cerah ini dikawal dan dibawa ke kuil Illorum Yammen di Hyphoress, Plantosin untuk disimpan dan dijaga ketat. Untuk mencegah masuknya bangsa reptilian, para Wallawi menggunakan sandi dalam bahasa Origon tua untuk membuka segel.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s