Para Orimãn dari Tharsis 1.1

Buat kakekku tercinta, Apithamus Solén, yang menyimpan seluruh misteri ini dari dunia hingga napas terakhirnya.

BUKU PERTAMA: UTESSERA NARMANI

Banyak orang telah melupakan Perang Gairan yang terjadi sepuluh milenium lalu di bujur tengah galaksi. Bagi para Oriman muda yang hidup di kota-kota metropolitan supercanggih seperti Lantoséas, Garlid, Bonjavééy, Khā Putā, Quenotchibā, Nāksa, Kaman Sajéva, Fam Orlaqui atau koloni-koloni Federasi di luar angkasa, istilah perang mungkin terdengar sangat jauh dan asing. Di bagian tengah galaksi, yang namanya ‘perang’ kini adalah kumpulan dokumentasi Seith Darpa ‘pasukan putih’,­—sekelompok orang dari aliansi sipil yang mendokumentasikan apa saja demi tujuan-tujuan filantrofis, sejarah, atau tujuan-tujuan non-komersil lainnya. Seith Darpa bergerak di antara dua kubu yang berperang, menyusup lalu mengambil video dan gambar, merekam pembicaraan-pembicaraan penting para pejabat delegasi Interra,—dan semua pihak mendukung langkah independen Seith Darpa kala itu yang konstan dan tidak memihak. Mereka adalah sejenis kronikus yang mengumpulkan fakta, berita, dokumen dan mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah galaksi.

Berkat jasa para pasukan Seith Darpa ‘mereka yang bertempur dengan promer dan laktar (kamera dan pencatat)’, catatan-catatan perang yang sudah kabur sepuluh generasi lalu masih bisa disaksikan hingga kini. Bagian buku ini, yang mengisahkan tentang pembentukan aliansi, perang Gairan dan sejarah kelam masa lalu yang telah terbenam di balik platform Federasi Imperium Tharsis, sebagian besar dimuat berdasarkan data-data yang tersedia di pusat Data Seith Darpa di Anoress, Murbeigiza. Kala itu saya harus terbang dengan pod patra kecepatan tinggi dari Bandara Minas Ovalen di Sansitenna untuk mengejar waktu saya yang tak banyak, lalu berlabuh di Murbeigiza. Cuaca saat itu terik menurut ukuran Origophyta, namun bagi spesies manusia, suhu 25 derajat Celcius adalah suhu ideal di mana otak bisa bernapas dengan lega. Anoress berjarak dua puluh lima thress khrod (kadang hanya disebut khrod, sekitar 165 kilometer) ke barat Murbeigiza. Pemerintah Federasi melarang kendaraan patra untuk terbang lebih dari lima puluh sentimeter di atas permukaan tanah di luar kota, di negara bagian mana pun. Jadi jalan-jalan protokol lintas kota lumayan menyita waktu bagi orang yang berpacu dengan waktu seperti saya. Di saat-saat lain, ketika akhir pekan (setiap sembilan hari sekali), saya akan selalu meluangkan waktu menaiki patra saya, menyetel kendali otomatis, membuka plafon kabinnya, lalu berjalan-jalan di perbatasan sub-urban Kha Puta yang jingga keunguan diterpa sinar matahari Apholen yang hangat.

Jadi saya menaiki kereta shermount ke Anoress dari Stasiun Distrik 7 Murbeigiza, dan saya tiba dalam sepuluh menit.

Pusat data Seith Darpa bukan tempat yang menyenangkan bagi makhluk-makhluk yang ingin ke Imperium Tharsis hanya untuk menikmati pemandangan, makan sayur anemot, minum susu naga, menikmati pusat rekreasi Nubar dengan wahana-wahana lintas dimensi yang melawan rumus-rumus fisika yang dikenal manusia, menonton film 4D di Monis Laura atau berjalan-jalan di setiap jengkal daratan Tharsis yang bagaikan surga. Pusat Data itu adalah tangki bawah tanah raksasa di bawah Gurun Semhotep, terkungkung dalam pasir setebal dua ratus meter, dengan ribuan pendingin dan lampu-lampu nirkabel yang menggelantung di setiap sudutnya. Siapa pun yang pertama masuk ke sana akan merasa bagaikan masuk ke dalam perut raksasa yang sedang tidur lelap. Tak ada suara berisik apa pun.

Saya melalui lima kali pemeriksaan sekuriti di lima level sebelum tiba di lantai dasar, dan berkali-kali dicek apakah benar saya adalah seorang manusia hibrid yang bekerja untuk Kementerian Arkeologi pemerintah Federasi Imperium Tharsis. Oriman-oriman berkulit biru dan jingga itu tidak percaya bahwa saya adalah manusia pertama dalam lima milenium terakhir yang mengunjungi planet mereka. Beberapa anggota sekuriti menjuluki saya ‘kera berdarah merah yang nyentrik’, mengingat kebodohan manusia yang berpikir bahwa leluhurnya adalah monyet.

Saya menunjukkan stempel elektronik kerajaan Imperium Tharsis di pergelangan tangan kanan saya setiap kali melewati pemeriksaan. Mereka,—para petugas sekuriti yang kekar dan biru—memastikan bahwa stempel itu asli dengan menyorotkan inframerah, lalu menyilakan saya masuk. Di ujung lorong, sebuah ruangan luas dengan ribuan—bahkan jutaan slot data menunggu saya untuk dijelajahi.

Saya menghabiskan waktu lima hari di ruangan itu,—menyewa satu kamar untuk para peneliti, pustakawan, arkeolog, sejarawan, dan makhluk-makhluk berotak nyentrik lainnya dari seluruh penjuru galaksi untuk menginap dan mencurahkan seluruh rasa ingin tahu mereka terhadap masa lalu yang terpendam dalam tembikar, puing-puing istana, sisa rekaman pesawat, atau bongkahan meteorit. Saya adalah bagian dari mereka,—dengan otak yang penuh dengan karbon 14 yang bolong,—berhasrat mengerti masa lalu demi sebuah impian di masa depan.

Kementerian menugasi saya untuk menggali sebuah kota di bagian timur Plantosin. Sejak dua tahun lalu, paru-paru saya telah dipenuhi debu piramida Novus Jura yang purba dan apak. Pemerintah tengah mencari cara untuk mengionisasi nirna biru,—cairan biru yang menjadi ancaman bagi bangsa Orimān—dengan katalisasi sinar matahari Apholen. Para Ksatria Tridias pada masa sebelum Perang Gairan telah menemukan cara untuk menetralisir senyawa tathnoclan,—zat yang membuat cairan itu biru, begitulah—agar tidak berbahaya bagi bangsa Oriman yang berdarah biru-jingga. Pemerintah Federasi percaya bahwa Novus Jura,—sebuah kota kuno di Kerajaan Rotana, Plantosin bagian timur, menyimpan rahasia bersejarah mengenai bagaimana leluhur bangsa Tridias bisa hidup dengan mengkatalisasi nirna biru sehingga tidak sampai menghancurkan bangsa mereka sendiri.

Seharusnya ini menjadi tugas teman-teman Orimān saya di Kementerian Riset atau Kementerian Pertahanan,—dan jujur saja… saya tidak melakukannya demi lima ratus mir yang habis seper-delapannya untuk membeli makanan, mengganti safir di mesin patra saya, atau traveling ke tepian kota di akhir minggu, lalu ke kuil… dan sebagainya. Tidak. Saya menyukai pekerjaan ini, dan saya menyukai sifat Bangsa Oriman yang hangat, telaten dan menyenangkan, terutama saat mereka memencet tombol di layar sentuh dengan gigi terlihat separuh atau berkomat-kamit pada layar 3D tentang di lantai mana mereka tengah berada. Saya merasa menjadi bagian dari mereka walaupun saya menyadari bahwa saya seorang hibrid.

Hibrid wallawi,—setidaknya saya punya darah setengah ningrat, atau apalah namanya.

Segalanya bermula dari sebuah masa lalu yang gemilang di bujur tengah galaksi. Para ksatria perkasa dari bangsa Tridias adalah para penjaga galaksi yang tangguh dan tak terkalahkan. Mereka membangun ratusan koloni di sepanjang sabuk luar guna menghalangi masuknya bangsa Reptilian Andréns yang kejam dan berdarah dingin.

Ambisi bangsa Andréns adalah menguasai seluruh galaksi,—dan bahkan jauh melampaui itu. Mereka telah memendam tujuan ini dalam darah mereka dan meneruskannya dalam darah-darah keturunan mereka yang sama kejamnya. Tak ada satu ras dari planet mana pun di seantero galaksi yang sanggup menandingi kekuatan militer dan taraf teknologi Andréns,—menjadikan seluruh bangsa tercekam dalam tirani yang mengerikan selama berabad-abad. Hanya bangsa Tridias yang sanggup menaklukkan ancaman Andréns, mengusir armada pasukan Andréns yang terdiri atas lusinan kapal pembom khanoptr dan senjata pemusnah planet keluar sabuk terluar galaksi, terbenam dalam dark matter yang kelam dan dingin, sedingin darah reptil mereka.

Berkat penjagaan Bangsa Tridias, seluruh galaksi menjadi tenteram. Selama beberapa milenium tidak terjadi pertumpahan darah dan kehidupan berjalan dengan damai. Berpusat di Planet Dianis, tata surya Narom, Bangsa Tridias membangun peradabannya sebagai bangsa terkuat di galaksi dengan ksatria-ksatria terlatih dan teknologi yang andal. Mereka mendirikan ratusan pangkalan dan koloni luar angkasa dan membagi wilayah perdamaian menjadi beberapa zona. Akan tetapi, para ksatria Tridias bukanlah tipe bangsa yang gila hormat dan mabuk kekuasaan. Mereka bukanlah penguasa galaksi dan mereka tidak pernah mengklaim sejengkal pun ruas antariksa sebagai hak milik mereka. Mereka mengabdi pada perdamaian elemen-elemen galaksi dengan tanpa pamrih selama ribuan tahun. Mereka tak pernah mengangkat raja dari bangsa mereka untuk menjajah bangsa dan planet-planet lainnya, mereka tak pernah mengambil sumber daya nuklir dari bintang mana pun, dan mereka tak pernah meminta imbalan apa pun. Ksatria Tridias bukanlah dewa-dewa,—mereka hanya berumur hingga tujuh ratus tahun, kemudian lenyap dalam api kremasi di belahan angkasa yang kelam. Roh-roh mereka terbang dalam nebula antah-berantah untuk kemudian dilahirkan lagi dalam bangsa-bangsa yang berbeda,—entah di sini ataupun di sana.

Apabila kisah legendaris Tridias dituturkan kepada anak-anak Oriman masa kini yang terbius dengan masa-masa damai yang panjang, mereka ragu bahwa itu adalah peristiwa yang nyata. Seperti halnya anak manusia yang terpesona dengan kisah-kisah lama mengenai perang besar yang terjadi di tahun-tahun antah-berantah, begitu pula mereka. Tatkala pelajaran selesai, semuanya menguap hilang begitu saja; terkecuali beberapa anak yang memang terpukau dan ingin menyelam dalam kancah sejarah lengkap dengan intrik dan suka-dukanya. Mereka tak akan gundah berlama-lama di perpustakaan, bank data atau museum untuk membicarakan mengenai Tridias dengan para sémmit senior di museum-museum terkenal.

Akan tetapi Bangsa Andréns, keturunan genetik dari bangsa reptil yang kejam dan iri hati tidak berhenti sampai di sana. Sepuluh milenium lalu, lama sebelum Raja Lithonatus Armél mencetuskan satuan tahun khamrel, Andréns muncul lagi dari latar belakang semesta untuk melancarkan serbuan yang terbesar sepanjang sejarah yang masih bisa diingat hingga kini. Koloni-koloni pertahanan Tridias hancur satu per satu oleh bangsa-bangsa bujur luar yang berkhianat dan termakan ambisi untuk menjadi penguasa galaksi. Dianis dikepung dari segala penjuru, dan sebuah khanoptṛ raksasa dengan pancaran energi plasma yang tak terbayangkan akhirnya melumatkan Dianis menjadi serpihan-serpihan kecil,—beserta seluruh penghuninya.

Begitulah akhir kejayaan Ksatria Tridias yang tangguh. Semuanya lebur dalam debu angkasa. Keturunan Tridias diburu di mana-mana. Tak ada tempat untuk bersembunyi. Para Andréns telah bertekad untuk memusnahkan bangsa Tridias dari alam semesta sehingga mereka tidak lagi memiliki penghalang demi tujuan mereka menguasai seluruh galaksi. Bayi-bayi Tridias dilumatkan bersama hantaman bom seismik, keturunan Tridias di ambang masa krisis dan tak mampu bertahan.

Catatan tentang pembantaian itu tak banyak tersisa karena Andréns menghancurkan sebagian besar bukti-bukti. Kaum Khlarén dari sistem tata surya Pord Lavena (sebuah sistem terasing di bujur luar) memiliki sedikit dokumentasi tua mengenai pembantaian besar-besaran terhadap Bangsa Tridias di planet mereka. Armada Andréns menghancurkan tumpukan mayat para ksatria Tridias,—tua, muda, laki-laki ataupun wanita—dengan tembakan plasma yang sangat panas sehingga tiada seorang pun yang bisa merekonstruksi ulang gen mereka dan menghidupkan kejayaan mereka kembali melalui rekayasa genetika, genetika silang, ataupun hanya sekadar mengkodifikasi ulang DNA mereka.

Peristiwa itu dikenal dengan nama Perang Gairan. Beberapa sémmit senior dari Novus Jura selama kekuasaan Raja Walajja Parseka lebih senang menyebutnya sebagai Pembantaian Gairan. Itu adalah perang paling mahal dan menyedihkan sepanjang sejarah galaksi. Satu per satu planet mulai bertekuk lutut pada kekuasaan Andréns. Antariksa diliputi kabut hitam kemurungan dan duka cita selama berabad-abad. Lenyapnya Ksatria Tridias yang tangguh dan murni telah membawa malapetaka bagi bangsa-bangsa yang lemah.

Akan tetapi riwayat Ksatria Tridias yang melegenda tak berakhir sampai di sana. Sarnir Khaiwalya, seorang wallawi tua dari hutan pegunungan Origophyta utara yang tenteram, menyampaikan angin kelegaan kepada bangsa-bangsa yang tertindas. Tatkala Dianis di ambang kehancuran, ia menyelamatkan satu-satunya keturunan Tridias yang tersisa. Seorang bayi Tridias biru-jingga yang dinamainya Yojatir Aréssa ‘ksatria yang keluar dari bunga api’. Dengan pesawat patra-nya, Sarnir Khaiwalya membawa keturunan Tridias yang rapuh dan mungil itu ke balik awan éranos, suatu tempat tersembunyi di bagian galaksi,—ke sebuah matahari biru bernama Apholen—nun jauh dari pengamatan dan jangkauan bangsa Andréns.

Origophyta adalah planet keempat di tata surya Apholen. Aréssa mungil yang tampan lalu mendarat bersama Khaiwalya, yang dianggapnya kemudian sebagai seorang kakek. Bayi itu tumbuh di lereng Pegunungan Karntheous Oléns yang putih pada musim dingin dan ungu pada musim semi oleh semak-semak fluūm yang mujarab. Origophyta jauh dari jangkauan prahara apa pun di seantero galaksi, dan armada Andréns tak akan berpikir untuk mencari seorang keturunan Tridias di planet jauh dan terpencil itu,—setidaknya sampai batas waktu di mana Aréssa siap untuk menjadi pemimpin pertempuran berikutnya.

Dari Bumi, Apholen sangat mudah dilihat. Aneh memang. Ilmuwan menamainya Pi Orionis, sebuah titik mungil di ujung tangan Rasi Orion. Bintang itu memang tak sebesar dan secerah Betelgeuse atau Bellatrix, tetapi ukurannya satu setengah kali matahari dan berwarna biru menawan. Dari sisi lain, yakni dari bujur tengah galaksi, Pi Orionis sangat sulit dilacak dan dilihat karena tertutupi awan nebula yang tebal. Sebelum Federasi Imperium Tharsis berdiri, hampir tak ada ras mana pun dari planet mana pun yang sudi melewati jalur Nebula Apholen karena jalan yang panjang dan melelahkan. Akan tetapi saat Aréssa di kemudian hari berhasil mengusir kembali para Andréns dan dinobatkan sebagai penguasa Federasi, Origophyta mulai dikenal sebagai surga yang damai di galaksi. Beberapa sémmit menyebut Origophyta sebagai Rahūn Dianis,—Dianis kedua,—tetapi beberapa sémmit lain dari bangsa thoruk atau nordician menolak hal itu dan berkilah bahwa Origophyta memiliki atmosfer yang lebih tebal dan biru serta kadar oksigen yang lebih tinggi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s