Para Orimãn dari Tharsis 1.3

Perang Walajja

            Kala itu Yojatir Aréssa baru berusia sembilan puluh lima tahun saat Sarnir Khaiwalya bersama kelompok Argunam Wallawi dari Pegunungan Khaundranima (kini bernama Pors Janefir setelah Yang Mulia Lithonatus Armél mendirikan pangkalan militer antariksa di sana) mengajarinya menunggangi naga. Khaiwalya pertama-tama mengajarinya bagaimana memilih naga sesuai dengan karakter seseorang. Naga-naga Argun Ma’at yang hidup di Pegunungan Pors Janefir adalah salah satu spesies paling eksotis di Origophyta. Mereka bertelur di bebatuan, mengerami telur mereka dengan sempuran api selama sembilan puluh hari, lalu tatkala anak-anak naga sebesar telur burung unta itu keluar dari cangkang mereka yang seputih susu, mereka langsung menyusu pada induk mereka. Naga jenis Argun Ma’at memakan sari nirna, buah-buah muun, susu murni, dedaunan pylo yang lebar dan lembut, serta kaktus barqi yang asam-manis. Jika sudah dewasa, ukuran naga Argun Ma’at bisa lebih besar daripada gajah Afrika dan cukup kuat ditunggangi tanpa berhenti di cakrawala Pors Janefir dari ujung ke ujung.

Pada masa-masa awal, pertumbuhan Argun Ma’at sangat cepat. Naga-naga dengan corak sisik yang khas itu bisa mencapai usia 500 tahun, dan pertumbuhannya akan berhenti pada usia 100 tahun. Pada 20 tahun pertama, ukuran badannya tumbuh drastis dari seukuran anak ayam hingga sebesar seekor gajah. Sisik-sisik naga Argun Ma’at memiliki warna-warni dan corak yang bervariasi, namun naga-naga yang biasanya dijadikan naga-naga kerajaan memiliki warna biru gelap dan totol-totol jingga,—membuatnya sangat mirip dengan kumpulan bunga elsheim yang mengudara di puncak pegunungan.

Argun Ma’at bisa menyemburkan api, dan beberapa naga lainnya menyemburkan api berwarna biru atau hijau. Naga-naga yang telah melewati fase adoun (sedikit lebih tua dari seratus tahun) memiliki kemampuan telepati yang bisa diwariskan kepada para oriman atau wallawi yang meminum susu mereka atau yang secara langsung dipilih oleh naga itu untuk menjadi pengendaranya.

Khaiwalya mengajari Aressa memilih naga, menggunakan kayu api fardem untuk menjadi tongkat gembala para naga. Naga-naga hanya bisa diperintah oleh Oriman yang menggunakan tongkat kayu api fardem dari hutan-hutan Atromilia. Usia sembilan puluh lima tahun adalah usia yang masih muda—dibandingkan dengan usia rata-rata oriman yang mencapai tujuh ratus tahunan. Khaiwalya memberi nama naga Aressa melalui sebuah upacara pengalungan daun fardem dan pemberian tongkat kayu api fardem di penghujung musim dingin. Naga itu dikenal dengan nama Aarun. Hingga saat ini pun, naga-naga yang dipilih menjadi tunggangan raja-raja Dinasti Parseka dinamai Aarun.

Aressa menghabiskan sepuluh tahun yang indah di lereng Kharntheous Olens bersama naga kesayangannya. Khaiwalya mengajarinya telepati, dan Raja Tsamor mengangkatnya sebagai putra mahkota.

Pada masa-masa awal sebelum Federasi berdiri, Origophyta dihuni oleh Oriman yang memiliki garis keturunan dengan bangsa Tridias. Mereka mendirikan koloni-koloni tua di Origophyta ketika masa ekspansi Tridias, dan menemukan bahwa Origophyta memiliki hutan-hutan walajja yang ajaib. Terasing selama ribuan tahun, mereka menamai bangsa mereka sebagai Orimān ‘orang-orang yang lahir dari api’. Pada saat orang-orang dari ras Tridias lama menetap, mereka lantas menemukan bahwa pada masa-masa yang disebut sebagai kharel-okhtum,—yang banyak akan kita bahas dalam bagian selanjutnya—adalah masa-masa di mana pohon walajja menghasilkan cairan nektar biru yang beracun.

Koloni-koloni pertama di Origophyta difungsikan sebagai suaka bagi bangsa Tridias pada masa-masa kritis, dan itu menjadi kenyataan tatkala Perang Gairan. Nyatanya, hanya ada satu keturunan Tridias yang selamat dari perang, namun Origophyta telah menjadi naungan bagi jutaan keturunan Tridias lainnya yang telah tinggal di sana sejak jauh sebelumnya, tetapi dari sub-ras yang berbeda,—yang tak suka terlibat dalam kancah pertempuran dan agresi.

Novéus Akleda adalah sebuah kerajaan tua di utara Alinalikus dan menjadi kerajaan terbesar yang menguasai Origophyta. Kerajaan Jura di Plantosin timur, Akharban di Alinalikus barat dan sebagainya menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan yang berkembang setelahnya. Tak heran, bekas-bekas peradaban Jura masih bisa dihirup dalam debu kuil kunonya di Novus Jura. Ada banyak sekali reruntuhan, dan kami telah mendirikan tiga puluh empat situs penggalian di wilayah dengan radius dua puluh satu khrod dari pusat kota Novus Jura lama.

Aressa menghabiskan waktunya untuk belajar dan berlatih di Novéus Akléda, dan Raja Tsamor yang agung menjadikannya kepala pasukan pada usia dua ratus lima puluh tiga. Pada tahun-tahun pertamanya, ia membawa Aarun berkeliling Pegunungan Kharntheous Olens di awal musim semi, saat burung-burung kharel baru lahir dari kepompong buah walajja yang keemasan.

Setiap tahun mungkin ada ribuan burung kharel yang lahir dan meminum sari bunga walajja, dan hutan-hutan walajja di Kharntheous Olens akan selalu ramai di kala subuh oleh kicauan dan lengkingan burung-burung kharel muda yang berwarna biru terang. Tatkala sinar matahari Apholen,—sebuah bintang kebiruan dalam fase muda yang menjadi pusat tata surya di sana—menyeruak dari cakrawala timur, cahaya badan burung-burung kharel yang kebiruan mulai meredup, dan hutan terbias oleh cahaya keemasan yang hangat.

Setiap hari ada ratusan pasukan yang berpatroli di perbatasan Kerajaan Novéus Akléda. Aressa pertama-tama bertugas di pantai barat, tempat di mana Pegunungan Kharntheous Olens berakhir di sebuah tebing curam nan dalam di bibir pantai. Aressa membawa naganya beristirahat di puncak tebing itu sambil berlatih memetik dan mengolah buah allé yang manis.

Raja Tsamor mengangkat Aressa menjadi kepala pasukan Argéos (pasukan yang menunggangi naga terbang) pada usia tiga ratus lima puluh tahun, dan bertugas di wilayah pegunungan. Selama lima tahun, Aressa mengenal berbagai ceruk Pegunungan Kharntheous dengan segala keindahannya, mengedarai naga ke pedesaan-pedesaan Wallawi, mempelajari cara mengekstrak nirna, melindungi para penduduk dari perompak bersenjata laser, dan berpatroli di puncak-puncak tertinggi.

Sebagian besar perbatasan selatan Kerajaan Novéus Akléda adalah tebing-tebing dan puncak-puncak pegunungan yang ungu pada musim semi karena semak-semak fluum yang lembut. Sementara itu, bagian utara Novéus Akléda adalah samudera ungu yang mengamuk, dan berujung pada Benua Siérlon di kutub utara yang putih dan membeku. Pada musim gugur, puncak-puncak pegunungan berubah warna menjadi jingga, dan tatkala salju musim dingin turun, ia menjelma menjadi putih. Aressa telah menyaksikkan episode-episode itu selama bertahun-tahun sembari mengelana di puncak-puncak gunung bersama naganya dan juga Khaiwalya, wallawi tua yang telah menyelamatkannya.

Masa-masa itu adalah kuartal akhir periode paling damai yang pernah dikenal generasi-generasi Oriman sejak beberapa puluh ribu tahun. Selama masa yang panjang itu (yang mungkin sangat, sangat panjang bagi manusia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s