Para Orimãn dari Tharsis 1.4

Mengapa selama ribuan tahun para Erãhûn dan golongan Darumã Wallawi mendapat posisi yang tinggi dalam hirarki ekologi Origophyta dijawab dalam sejarah Perang Walajja. Hanya perlu tiga ratus tahun bagi para reptilian Andréns untuk bisa mencium darah ksatria samnubãr terakhir dari Dinasti Tridias yang tumbuh dalam masa-masa damai di Origophyta setelah Perang Gairan memusnahkan semua trah DNA mereka tanpa ampun.

Bahkan bangsa Tathnom yang terkenal dengan petualangan mereka di sepanjang lingkar luar galaksi tidak pernah lagi mendapatkan catatan mengenai seorang ras Tridias pun yang pernah berlalu lalang di sepanjang angkasa mereka sejak Perang Gairan benar-benar usai. Bangsa Tridias yang mutakhir dengan persenjataan terkuat yang pernah ada di galaksi akhirnya hanya tinggal sejarah, menjadi debu yang menempel pada kapal-kapal induk bangsa-bangsa yang masih bertahan, lalu dihapus ketika mereka mendekati orbit untuk pulang—mengabarkan kepedihan yang mereka alami selama seribu tahun.

Tata surya Apholen benar-benar baru terusik pada pertengahan tahun 8032 Laksi,—beberapa tahun sebelum satuan tahun Khamrél dirancang oleh Dinasti Parseka yang hingga kini mengembalikan kejayaan Tridias di bagian tengah galaksi. Kekuatan tempur Andréns mencapai setengah juta reptilian, lima ratus kapal penambang antariksa dan seratus dua puluh lima kapal induk yang masing-masing memuntahkan hingga seribu dua ratus piring terbang tanpa suara yang membelah keheningan orbit planet biru-keunguan itu.

Serangan dimulai di pagi yang cerah, saat daun-daun walajja bermekaran, meneteskan cairan nirna keemasan yang menjadi sumber kehidupan bangsa Orimān. Udun Nar, sebuah ibukota kuno, seratus dua puluh tujuh khrod ke barat Naksa, menjadi sasaran pertama serangan Andréns. Perlawanan sengit dilakukan bangsa Orimãn yang tak sudi tanahnya direnggut oleh reptilian berdarah dingin. Segenap teknologi dikerahkan, peralatan tempur, bom seismik, nuklir merah yang kasar,—sanggup membuat seluruh planet hijau itu berakhir dalam sebuah hari terakhir yang tragis dan mengerikan.

Raja Tsa’mor memimpin armada perang Novus Akléda dengan kekuatan dua ratus ribu piring terbang berawak dan sembilan kapal induk, merangkak perlahan namun pasti ke cakrawala timur untuk mengunggah dirinya menyerbu orbit yang dikepung armada Andréns. Yojatir Aressa menghimpun kekuatan yang masih ada di segenap kerajaan di Benua Planosin. Kerajaan-kerajaan yang telah ada (yang tersisa hingga kini dan menjadi kerajaan-kerajaan pembentuk Federasi awal) seperti Rotana, Pytoshire (kini lebih dikenal dengan Typsanima), Argagûn, Hotarés, Guanari, Hatéyya dan Lardar menyatukan semua armada mereka untuk menantang pertahanan Andréns di cakrawala.

Semua berjuang hanya demi seorang keturunan Tridias yang tersisa,—Aressa.

Generasi muda yang hidup sepuluh milenium setelah perang yang menyayat hati ini berakhir (di masa kini, itu maksud saya) kerap bertanya kepada para sémmit tentang mengapa leluhur mereka harus rela mengorbankan begitu banyak nyawa hanya untuk menyelamatkan seorang keturunan Tridias yang masih muda. Ketika saya pertama kali menjadi seorang sémmit pada lima tahun lalu, seorang orimān muda menanyakan hal yang sama kepada saya. Saya meminta bantuan Arbél Tann, sahabat lama yang tua, untuk menjelaskannya.

“Kekuatan Apholen mengalir dalam darah,” ujar Tann dengan suara yang jelas. “Orang Orimãn menghargai kemurnian darahnya, demikian pula bangsa Tridias. Engkau dan diriku lahir dari setitik darah yang murni, dan apa yang dibawa oleh darah itu akan menjadi diriku dan dirimu. Beberapa pahlawan perang di masa lampau, yang berhasil menghalau musuh yang keji dan tamak—kita percaya bahwa mereka bukanlah orang-orang biasa. Mereka teah dilahirkan sebagai lawan tanding yang sepadan dengan kejahatan, yang ditakdirkan untuk membasmi mereka. Tak semua orang bisa melakukan hal itu, dan setiap hati para Orimãn meyakini bahwa para samnubãr tak bisa dari kalangan biasa. Tampaknya setelah para ganimãn yang agung duduk dalam supervisi pemerintahan, itu tidak menjadi hanya sekadar keyakinan. Itu menjadi hidup dalam mata, napas dan jejak langkah orang-orang Orimãn. Kau dan aku,—yang kini hidup dalam era keajaiban di sebuah planet yang damai bagaikan surga, dan ini bukanlah sebuah mimpi. Kita kini hidup karena naungan mereka yang lebih perkasa, dengan darah samnubãr yang digariskan oleh Apholén dari masa yang tak bisa dijangkau lagi bahkan dengan pesawat linimasa tercanggih.”

Tann bertutur dengan gaya yang mirip dengan kakek saya (di Bumi). Usianya sembilan ratus dua puluh tahun,—terpaut sembilan ratus tahun dengan saya,—dan seluruh sémmit senior akan merayakan hari ulang tahunnya di kuil Géyya di Kharnthéous Oléns di purnama kembar musim semi.

Saya memanggilnya ‘sarit’ (yang terhormat). Bayangkanlah, seorang manusia kecil dengan napas yang putus menjelang delapan puluh tahun, berteman dengan Oriman “tua” berusia hampir seribu tahun. Apabila para ahli bahasa mengenal mereka, seluruh umat manusia harus mendefinisikan ulang apa arti kata “tua”. Namun ia senantiasa mengancam saya dengan berkata, “Sekali lagi kudengar kata itu kauucapkan untuk memanggilku, aku akan menghapus izin bebasmu ke Seith Darpa, selamanya!” Saya tahu kakek Orimãn tua itu,—dengan kulit sebiru rubi dan mata serta otak yang besar—tidak akan seserius itu. Ia hanya tak ingin diganggu dengan popularitas publik ketika tiba masanya ia mengasingkan diri di gua-gua Dranda dan membakar dirinya dalam api napasnya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s