Para Orimãn dari Tharsis 1.5

Arbél Tann memberi saya kode akses miliknya untuk membuka hasil penelitian sejarahnya di Seith Darpa. “Seorang sémmit harus memahami sejarah,” bisiknya tatkala ia menyerahkan kartu kecil seukuran telapak tangan itu kepada saya. “Masa register sémmit-ku akan segera berakhir, dan aku ingin menghabiskan masa tuaku di lereng Atnakin. Aku tidak mau anak-anak dan remaja-remaja yang banyak bertanya itu kehilangan arah ketika mereka sampai di Perang Gairan atau ketika mereka menghadapi pertanyaan mengapa darah golongan samnubar berwarna jingga dan darah mereka biru.”

Tann lebih mudah seratus tahun daripada kakek saya, Apithamus Solén. Ketika kakek saya dikremasi beberapa tahun lalu, delegasi dari dua ratus kerajaan di planet-planet berbeda hadir, dan Tann mengenali semua alien berbeda ras itu satu per satu.

Ketika armada pasukan Andréns berhasil menjebol pertahanan Origophyta dan mematikan perisai atmosfernya, mereka segera menurunkan hujan pesawat patra (pesawat canggih yang berbentuk piring terbang,—yang Anda dan saya kenal sebagai UFO selama berabad-abad). Mereka menyerang Novus Jura di wilayah Rotana bagian timur, memfokuskan perhatian mereka pada Gunung Hyphoress Barshi di jantung hutan Planosin, dan membidik bangunan-bangunan di kota-kota lereng utara Karntheous Oléns yang permai.

Bangsa Orimãn telah mendiami Origophyta sejak waktu yang tidak bisa ditentukan lagi. Kadar oksigen yang tinggi membuat mereka tumbuh menjadi makhluk berotak besar, tinggi dan ramping, serta cerdas namun bermoral. Sisa-sisa peradaban pertama mereka mungkin telah terkubur dalam-dalam di lapisan tanah awal. Bahkan walaupun mereka kini berteknologi sangat maju (dalam kategori peradaban kelas V,—yang dapat mengembangkan sumber energi terbarukan dari sumebr daya di planet dan tata surya mereka sendiri dengan efek hingga 0,9 persen pada ekosistem), mereka pun melupakan apa yang terjadi pada leluhur mereka hingga ratusan ribu tahun lalu. Ironis, memang, dan kenyataan yang malang itu menjadi alasan bagi Seith Darpa untuk mengembangkan kredibilitas mereka dalam dokumentasi sejarah.

Pada awalnya, bangsa Orimãn sebagian besar terdiri atas golongan wallawi-sakhãn yang memiliki kemampuan metakinesis dan metapsikologis yang tinggi. Di samping para wallawi, golongan samnubar juga mendiami planet. Penduduk Origophyta, yang terlindung oleh kabut antariksa di jalur pinggir dari serbuan dan gangguan ras-ras eksoplanet yang bernafsu menguasai sumber daya alam dan energi, hidup dalam damai selama beratus-ratus generasi. Di era saat bangsa Tridias mengusir pengaruh Andréns dari galaksi bagian tengah dan menetapkan wilayah Anuris-Niquipu untuk mencegah serangan lanjutan dari reptilian Andréns yang berdarah dingin dan kejam, Origophyta menjadi pusat transit rahasia bangsa Tridias. Mereka berbaur dengan para Orimãn dan menjalin kerja sama secara kebudayaan. Orimãn pada dasarnya sangat membenci politik, namun tatkala masa-masa menjelang dan setelah Perang Gairan,—entah karena pencampuran darah atau ras bangsa Tridias yang penuh keberanian, diplomasi dan kekesatriaan,—kaum ksatria dari bangsa Orimãn, yang menamai diri mereka para samnubãr, turun dalam kancah politik galaksi dan terlibat dalam perang.

Maka dari sanalah masa-masa di mana Origophyta membuka diri dalam kancah politik yang damai, yang menyerahkan kedaulatan negeri kepada para bangsawan dari keturunan Tridias (kini ditambahkan dengan kata Parséka) dan dikontrol oleh kaum wallawi yang bersahaja. Sejak saat itu Origophyta menjadi sebuah planet di mana teknologi tinggi menyatu dengan alam, kekuatan metakinesis yang menakjubkan, moralitas dan keajaiban ekosistem yang beraneka ragam.

Serangan Andréns di hari pertama tidak bisa melumpuhkan pusat-pusat peradaban di utara Akinakhéya karena Raja Tsa’mor mengerahkan armada ephos alarén untuk menghancurkan formasi patra Andréns. Catatan di Seith Darpa, ditulis oleh saksi mata Neraphé Bahūnn menggambarkan bagaimana pesawat-pesawat patra milik bangsa Andréns menyerang bagaikan kilat-kilat bundar yang menyambar dari gumpalan awan di langit Kharnthéous Oléns. Dia mencatat,

            “…dan kala itu, dari balik kaca helm baju perisai saya bisa menyaksikan gerombolan pesawat patra bangsa Andréns yang melaju cepat bagaikan kilatan petir dari langit selatan. Saya berada bersama seratus dua puluh ribu pasukan Kerajaan Novus Akléda dalam kapal-kapal perang berwarna perak. Dengan senjata plasma di tangan saya, saya bisa merasakan napas saya semakin berat dan saya hampir tak sanggup lagi memegang picu senapan saya. Siapa yang tak gemetar melihat serbuan musuh yang cepat bagaikan cahaya, mendengungkan kematian yang pasti bagi kami semua. Tak ada yang berpikir saat itu bahwa mereka akan tetap hidup hingga matahari apholen terbenam. Namun kami berpikir bahwa kami harus melakukan sesuatu, sekecil apa pun itu, di saat-saat kami yang terakhir.” (halaman 187).

“Kala itu, Raja Tsa’mor yang perkasa meneriakkan penyerbuan dari hologram, dan seruan lantang itu melenyapkan getaran di tangan saya. Saya dan ratusan rekan saya yang tampak sama di balik baju perisai yang membungkus seluruh tubuh kami menembaki mereka dengan hujan plasma dan laser biru yang menyala terang, sementara rekan-rekan saya yang lain mengaktifkan bom plasma yang mendengung ketika dilepaskan. Saya tergabung dalam skuadron khanelir, bertanda sebuah lingkaran berwarna biru di lengan kanan kami. Saya tak peduli lagi dengan siapa saya bertempur. Saya hanya melihat kilatan-kilatan cahaya biru terang dari senjata plasma saya yang membentur perisai pesawat patra Andrens lalu lebur, lenyap.” (halaman 189).

“Setiap sekian detik, saya mendengar suara dengungan bom plasma yang sama, diikuti kilatan cahaya oranye yang terang. Cahaya oranye itu merasuk ke tengah-tengah armada patra Andréns yang dapat berpindah-pindah dengan kecepatan sangat tinggi, bagaikan kilasan cahaya yang hidup-mati. Bom plasma memporak-porandakan puluhan pesawat mereka yang bundar-terang, sementara beberapa banyak pesawat lain menghindar dengan membuat diri mereka tidak terlihat. Pesawat patra bundar yang terkena dampak bom plasma kami kehilangan cahaya mereka, berhenti mendadak, lalu terbakar. Pesawat-pesawat itu jatuh bagaikan hujan meteor yang mengerikan kala senja hari. Tatkala itu terjadi, kami benar-benar tidak tahu dari mana pesawat-pesawat itu bisa menyerang. Mereka bisa ada di atas kami, di samping, atau bahkan telah siap membidik kami dari depan. Sensor panas, ultraviolet dan inframerah di helm perisai kami tidak bisa melacak keberadaan pesawat-pesawat mereka yang menakjubkan… sekaligus mengerikan.” (halaman 190).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s