Para Orimãn dari Tharsis 1.6

Di hari pertama, sembilan puluh ribu tentara tewas dan ratusan pesawat antariksa dari kerua belah pihak terjungkal tak berdaya di tanah Origophyta. Jenderal Besar Zorn Epaphin yang diangkat oleh Raja Tsa’mor untuk memimpin semua pasukan Origophyta menugasi pasukan pengendara naga untuk melindungi pusat-pusat energi di sepanjang Pegunungan Pors Janefir dan semenanjung barat Alinakheya. Pusat-pusat energi itu tidak boleh terkena dampak perang. Lima lapisan penjaga dikerahkan untuk mengamankan semua pusat energi di Alinakheya.

Tampaknya sistem pertahanan lima lapis itu tidak sanggup menahan gelombang serbuan pesawat-pesawat patra nan tangguh milik bangsa Andrens. Hingga lima hari berikutnya, pertahanan Origophyta berada dalam titik nadir. Dari seratus enam puluh tiga titik piramida energi yang bertahan, hanya lima puluh piramida yang masih bisa berfungsi di hari kelima.

Jenderal Zorn Epaphin menyatakan dalam log videonya di hari ketujuh perang: “Kami saat ini telah kehilangan tujuh puluh persen persedian energi. Lebih dari seratus armada terkuat dan enam puluh juta Oriman tewas dalam pertempuran ini. Apabila seseorang di masa depan menemukan log video ini, sampaikanlah semangat dan harapan kami yang tak pernah pudar sebagai sekutu keturunan Tridias, kepada bangsamu, kepada sekutumu, kepada seluruh pemimpin di galaksi, bahwa musuh kita adalah para reptilian Andréns. Apabila kemenangan hari ini tak berpihak pada kami, maka berjanjilah suatu hari kalian akan bersama-sama merebut kembali perdamaian galaksi yang kini jatuh di tanah Origophyta, bertabur darah biru kami yang cemerlang dan hangat.”

Tatkala saya menatap kedua belah mata jenderal besar yang pemberani itu, darah manusia saya berdesir tajam. Video berusia sepuluh milenium itu terasa baru kemarin diproduksi di sebuah studio bioskop empat dimensi di Monis Laura. Saya menahan napas berkali-kali tatkala jenderal menitikkan air matanya yang bening di sudut kelopak matanya yang besar. Tak pernah saya sangka, Oriman pertama yang saya lihat menangis adalah seorang jenderal besar berusia sepuluh ribu seratus tahun yang kini hidup dalam gumpalan awan data atomik di markas besar Seith Darpa.

Yang patut disayangkan lagi, itu adalah log video terakhirnya sebelum sang jenderal dengan gagah berani bertempur di Pors Janefir demi mempertahankan piramida generator energi terbesar di Origophyta saat itu. Di hari kedelapan, sebuah senjata khanoptri plasma milik Andrens melumat tubuhnya hingga tak tersisa dalam hitungan milidetik, menjadi serpihan atom yang tak dapat lagi dikenali.

Gugurnya Zorn Epaphin seolah membuka gerbang kesempatan yang besar bagi Yojatir Aressa, satu-satunya keturunan Tridias yang tersisa, untuk maju menggantikannya. Aressa menganggap ini bukanlah sebuah kesempatan, namun sebuah malapetaka. Usianya kala itu terpaut tiga ratus tahun dengan usia minimal seorang perwira berpangkat jenderal. Akan tetapi Raja Tsa’mor memiliki sebuah keyakinan yang tak bisa ditangguhkan lagi.

Raja berkata, “Semua semangat dan energi Tridias kini ada padamu. Adalah sebuah keyakinan kami sejak kerajaan ini berdiri beribu-ribu tahun lalu, bahwa alam semesta akan menemukan siapa yang patut menjaganya dari ketimpangan. Kaummu, Tridias, yang berjaya di galaksi dalam pengabdiannya pada perdamaian,—apakah kaupikir semesta ini adalah benda yang mati? Ia sedang menyaksikan seluruh pertumpahan darah beraneka warna ini dari partikel subatomiknya yang paling sensitif. Ia merekam segala sesuatunya,—dan memberi kesempatan dan kekalahan pada waktunya. Namun alam tak ingin bertindak sendiri. Ia memerlukan para samnubar yang pemberani. Dan tahukah kau Aressa? Darah samnubar itu mengalir di nadimu, kini, di tubuh itu. Engkau yang dinantikan oleh lengan-lengan galaksi yang penuh energi cahaya Apholen yang abadi. Bertempurlah kini, dan buatlah kaummu bangga. Ini adalah kesempatanmu membayar semua duka cita kekalahan mereka.”

Aressa mengambil senapan plasmanya lalu berlutut di hadapan raja, “Apabila aku adalah seorang samnubar,” ujarnya mantap. “Maka hari ini aku tidak akan memperhitungkan kalah atau menang. Aku tidak akan memperlihatkan punggungku pada mereka.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s